Di kafe kampus yang ramai, seorang mahasiswa tahun ketiga menatap layar ponselnya. Sudah dua minggu sejak dia mengirim draf bab pertama skripsinya ke dosen pembimbingnya. “Read 14.30” terpampang di aplikasi pesan, tetapi tidak ada jawaban. Ia mengirim email follow-up yang sopan, dan hasilnya sama, keheningan digital. Di sisi lain kota, di ruang kerja yang dipenuhi tumpukan kertas, seorang profesor merasa sesak melihat notifikasi dari mahasiswa bimbingan yang belum membalas undangan rapat untuk keenam kalinya. Pesan-pesan itu dibaca, tapi hilang begitu saja, tersedot oleh kesibukan dan kelelahan yang tiada henti.
Ini bukan sekadar kisah tentang mahasiswa yang malas atau dosen yang tidak peduli. Ini adalah fenomena academic ghosting atau hilangnya komunikasi secara tiba-tiba dalam relasi akademik tanpa penjelasan, yang sedang mewabah di perguruan tinggi kita. Namun, anggapan bahwa ini sekadar soal etiket yang luntur adalah pandangan yang dangkal. Fenomena ini adalah gejala demam yang mengindikasikan infeksi yang jauh lebih dalam, seperti menguatnya mentalitas transaksional dalam pendidikan, diperparah oleh kecemasan sosial yang terpolarisasi dan beban kerja yang melampaui batas, yang secara perlahan merusak fondasi kepercayaan dan kolaborasi yang menjadi nyawa dunia akademik.
Pascapandemi, dunia pendidikan tinggi terjebak dalam paradoks. Teknologi memungkinkan kita terhubung dengan satu klik, tetapi justru membuat kita semakin sulit untuk benar-benar hadir dan bertanggung jawab. E-mail, aplikasi pesan, dan platform kolaborasi yang seharusnya mempermudah, justru sering menjadi alat untuk menghindar dan mengabaikan. Ketika relasi dosen-mahasiswa yang sakral berubah menjadi sekadar urusan deliverable dan tenggat waktu, maka yang tersisa hanyalah transaksi yang rapuh. Dan dalam transaksi yang rapuh, menghilang begitu saja terasa seperti opsi yang sah, meski meninggalkan luka psikologis yang dalam bagi pihak yang ditinggalkan.
Membedah Anatomi Ghosting Akademik
Praktik academic ghosting hadir dalam berbagai wajah, yang sering kali berlawanan dengan stereotip awal.
Dari Sisi Mahasiswa, ghosting bukan hanya soal menghilang saat bimbingan skripsi. Ini termasuk tidak membalas undangan rapat proposal, diam seribu bahasa saat diberi tanggapan kritis, atau tiba-tiba off-radar setelah mengajukan ide penelitian. Menurut penelitian, tindakan ini sering kali dipicu oleh kecemasan sosial dan ketakutan akan penilaian negatif. Menghadapi dosen untuk mengakui kebingungan atau ketertinggalan terasa jauh lebih mengerikan daripada diam dan berharap masalah itu berlalu. Seperti yang diungkapkan seorang mahasiswa dalam studi, “I’m not good at communicating with people in person… I do not have the confidence”. Dalam ekosistem digital di mana mereka terbiasa dengan kontrol penuh atas interaksi (membalas kapan saja, atau tidak sama sekali), konfrontasi tatap muka menjadi beban yang terlalu berat.
Di Sisi Dosen, ghosting kerap terwujud dalam bentuk tanggapan yang hilang. Mahasiswa mengirim draf, tetapi umpan balik tidak kunjung datang. Pertanyaan via e-mail menguap tanpa jawaban. Bahkan dalam proses rekrutmen akademik, fenomena ini sangat terasa; seorang pelamar mungkin tak pernah mendapat kabar setelah mengirim lamaran. Di balik ini, ada realitas yang pahit. Beban kerja berlebih yang sudah menjadi epidemi. Dengan banyaknya kelas, tuntutan penelitian, dan tugas administratif yang menumpuk tanpa dukungan staf yang memadai, komunikasi personal menjadi korban pertama yang dikorbankan. Seorang komentator akademik dengan tegas menyatakan, akar masalahnya sering kali adalah ekonomi dan sumber daya, bukan semata-mata moral. “Morals are also a by-product of economics… accountable hiring systems require money, money in the form of administrative staff”. Ketika sistem kelelahan, manusia di dalamnya pun ikut kelelahan, dan komunikasi menjadi barang mewah.
Dampak Runtuhnya Fondasi yang Tak Terlihat
Efek ghosting akademik melampaui rasa frustrasi personal. Ini menciptakan kerusakan sistemik berantai yang menggerogoti kualitas pendidikan itu sendiri.
- Tertundanya Proses Akademik dan Penurunan Kualitas Riset: Skripsi dan tesis mandek karena kurangnya bimbingan yang konsisten. Proyek penelitian kolaboratif kehilangan momentum. Akhirnya, deadline diperpanjang, kelulusan tertunda, dan kualitas karya ilmiah menurun karena kurangnya diskusi dan penyempurnaan yang mendalam.
- Lingkungan Akademik yang Tidak Supportive: Ghosting mengikis keamanan psikologis (psychological safety) yaitu keyakinan bahwa seseorang dapat mengajukan pertanyaan, mengakui kesalahan, atau meminta bantuan tanpa rasa takut dipermalukan. Ketika mahasiswa takut “mengganggu” dosennya atau dosen merasa interaksi hanya menambah beban, maka ruang untuk eksplorasi intelektual, kreativitas, dan pembelajaran dari kegagalan pun sirna. Lingkungan yang seharusnya subur untuk pertumbuhan justru menjadi lahan yang kering dan penuh kehati-hatian.
- Dampak Psikologis Jangka Panjang: Penelitian mutakhir tahun 2025 dari Universitas Brighton dan Coimbra secara eksplisit menghubungkan pengalaman di-ghost dengan peningkatan gejala paranoia dan depresi, khususnya pada kalangan dewasa muda. Di konteks akademik, mahasiswa yang diabaikan dapat mengalami keraguan diri yang mendalam “apakah karya saya tidak layak hingga diacuhkan?”, yang pada akhirnya merusak kepercayaan diri akademik mereka. Di sisi lain, dosen yang terbiasa “menghilang” berisiko kehilangan sensitivitas dan kapasitas untuk membina hubungan mentoring yang otentik.
Solusi Prosedural dengan Membangun Sistem yang Mencegah Kelelahan
Mengatasi ghosting akademik memerlukan lebih dari sekadar seruan untuk “lebih sopan”. Kita memerlukan intervensi sistemik yang mengurangi tekanan pada individu.
- Menerapkan “Communication Charter” atau Kontrak Komunikasi: Setiap kelompok bimbingan atau departemen perlu memiliki kesepakatan tertulis yang jelas. Dokumen ini mengatur ekspektasi komunikasi yang realistis dan transparan: kapan dan melalui saluran apa komunikasi dilakukan (misal: e-mail untuk hal formal, grup WhatsApp untuk koordinasi cepat), tenggat waktu respons yang wajar (misal: 3-5 hari kerja untuk umpan balik draf), serta protokol jika terjadi silence yang tidak wajar. Ini bukan untuk mengikat, tetapi untuk memberikan kepastian dan menghilangkan tebak-tebakan.
- Memanfaatkan Tools Manajemen Kolaborasi: aripada mengandalkan e-mail yang mudah tenggelam, gunakan platform seperti Trello, Asana, atau Notion untuk bimbingan skripsi/tugas akhir. Di sini, progress, tugas, komentar, dan file dapat dilacak dengan mudah oleh semua pihak. Dosen dapat memberikan feedback singkat di kartu task, mahasiswa dapat memperbarui status, dan “keheningan” menjadi lebih terlihat dan bisa ditindaklanjuti. Ini mengubah proses dari komunikasi reaktif menjadi manajemen proyek kolaboratif.
- Review Beban Kerja dan Dukungan Administratif: Institusi harus jujur melakukan audit terhadap beban kerja dosen dan mahasiswa. Apakah jumlah mahasiswa bimbingan sudah wajar? Apakah beban mengajar memungkinkan waktu untuk bimbingan yang bermutu? Seperti yang dikritik dalam konteks perekrutan akademik, hilangnya dukungan staf administratif memaksa dosen melakukan pekerjaan yang seharusnya bukan tanggung jawah utama mereka, menguras energi untuk komunikasi rutin. Investasi pada dukungan ini bukanlah kemewahan, melainkan kebutuhan untuk memelihara core business akademik, yaitu pendidikan dan penelitian.
Baca Juga: Artikel kami tentang Menerapkan Arsitektur Data Mesh demi Revolusi Otonomi Data
Membangun Kembali Jembatan Etika Komunikasi di Era Digital
Selain sistem, kita perlu membangun kembali keterampilan dan etika komunikasi yang telah tergerus oleh dinamika digital.
Pelatihan Soft Skill bagi Dosen dan Mahasiswa
Perguruan tinggi perlu memasukkan modul komunikasi akademik yang asertif dan empatik ke dalam program pengembangan. Bagi mahasiswa baru, ini bisa berupa bagian dari orientation week. Bagi dosen, bisa menjadi bagian dari pelatihan pengajaran. Materinya harus konkret, seperti cara meminta klarifikasi dengan sopan, cara memberi feedback yang membangun, cara mengelola kecemasan saat harus menyampaikan kabar buruk (seperti meminta perpanjangan deadline), dan cara menyetel batasan (boundary) yang sehat tanpa mengabaikan.
Mengembalikan Nuansa Manusiawi dalam Interaksi Digital
Kita perlu sadar bahwa di balik setiap e-mail ada manusia. Sebuah penelitian tahun 2025 menunjukkan bahwa kualitas hubungan dosen-mahasiswa berperan sebagai penyangga yang signifikan terhadap dampak negatif kecemasan sosial dan Fear of Missing Out (FoMO) terhadap performa akademik. Artinya, hubungan yang hangat dan supportive adalah antidote bagi racun yang dibawa oleh dunia digital. Ini bisa dimulai dari hal sederhana dengan menggunakan nama, mengawali dengan salam, atau mengakui penerimaan pesan dengan ucapan “Terima kasih, drafnya sudah saya terima. Saya akan baca dan beri tanggapan dalam waktu X hari”. Kata-kata kecil ini mengembalikan agency dan rasa dihormati.
Normalisasi Percakapan tentang Kegagalan dan Kelelahan
Lingkungan akademik kerap memuja kesempurnaan. Kita perlu menciptakan ruang aman untuk membicarakan kesulitan, baik sebagai mahasiswa yang kewalahan maupun sebagai dosen yang burnout. Workshop atau forum diskusi terbuka tentang manajemen stres akademik dapat membantu menormalkan perasaan ini dan mengurangi stigma yang mendorong orang untuk memilih menghilang daripada terlihat “tidak mampu”.
Melihat ke Depan Dari Transaksi Menuju Kolaborasi
Academic ghosting adalah cermin yang memantulkan distorsi dalam relasi akademik kita. Ia menunjukkan bagaimana tekanan sistemik, budaya digital yang impersonal, dan kelelahan mental dapat mengubah hubungan mentoring yang seharusnya transformatif menjadi sekadar urusan teknis yang dingin.
Memulihkannya membutuhkan komitmen ganda, yaitu memperbaiki sistem yang menciptakan kelelahan dan memberdayakan individu dengan keterampilan komunikasi yang manusiawi. Tujuannya bukan hanya untuk menghilangkan keheningan, tetapi untuk mengisi ruang itu dengan dialog yang bermakna. Dunia akademik pada hakikatnya adalah komunitas pencari kebenaran. Komunitas itu tidak bisa tumbuh dalam keheningan yang dipaksakan, melainkan hanya bisa berkembang dalam percakapan yang kadang kritis, seringkali menantang, tetapi selalu dengan dasar saling percaya dan pengakuan akan kemanusiaan satu sama lain.
Saat kita berhasil mengusir “hantu” dari koridor akademik, yang kita temukan bukanlah ruang hampa. Kita akan menemukan kembali ruang di mana ide-ide bersirkulasi, kebingungan mendapat pencerahan, dan hubungan intelektual yang otentik dapat bertumbuh. Itulah dunia akademik yang layak kita perjuangkan. Dimana sebuah tempat yang tidak hanya memproduksi gelar, tetapi juga memelihara akal budi dan hubungan manusia.
FAQ (Frequently Asked Questions)
1. Apakah “ghosting” oleh dosen selalu merupakan tanda bahwa mereka tidak peduli?
Tidak selalu. Sering kali, ini adalah gejala beban kerja berlebih dan sistem yang tidak mendukung. Banyak dosen terbebani oleh tugas mengajar, penelitian, dan administrasi tanpa dukungan staf yang memadai, sehingga komunikasi personal menjadi korban. Ini adalah kegagalan sistem, bukan semata-mata kegagalan individu.
2. Sebagai mahasiswa, apa yang bisa saya lakukan jika merasa di-ghost oleh dosen pembimbing?
Pertama, Gunakan Channel yang Disepakati. Pastikan Anda mengikuti protokol komunikasi yang telah disepakati (e-mail kampus, dll). Kedua, Bersikap Asertif dan Sopan. Kirim follow-up yang jelas, singkat, dan beri tenggat waktu yang wajar. Contoh: “Selamat pagi, Prof. Saya ingin menindaklanjuti draf bab X yang saya kirim pada [tanggal]. Apakah ada umpan balik yang bisa saya tunggu sebelum [tanggal target]? Terima kasih atas waktunya”. Ketiga, Eskalasi dengan Bijak. Jika tidak ada respons setelah beberapa kali upaya, bicaralah dengan koordinator program atau departemen, sampaikan fakta secara objektif untuk meminta bantuan mediasi.
3. Tools seperti Trello atau Asana tidak umum digunakan di kampus saya. Apa alternatifnya?
Gunakan fitur yang sudah ada dengan lebih strategis. Buat dokumen Google Docs bersama untuk draf skripsi, dan gunakan comment dan suggestion mode untuk umpan balik. Atau, buat spreadsheet sederhana yang melacak progress per bab, tanggal revisi, dan status. Kuncinya adalah memiliki satu sumber kebenaran bersama yang terlihat oleh semua pihak.
4. Dosen sering kali mengharapkan kesempurnaan. Bagaimana saya bisa mengakui kebingungan atau kegagalan tanpa takut dihakimi?
Inilah pentingnya membangun keamanan psikologis (psychological safety). Anda bisa memulainya dengan membingkai percakapan secara positif. Daripada mengatakan “Saya tidak mengerti sama sekali,” coba katakan, “Saya sedang memproses konsep X. Sejauh ini, pemahaman saya adalah A dan B, tetapi saya masih kesulitan dengan bagian C. Bolehkah saya meminta penjelasan tambahan?” Pendekatan ini menunjukkan usaha dan kemauan belajar, bukan pasif menyerah.